Wednesday, 21 March 2018

Sang Penandai : Dia Yang Tidak Memanusiakan

Hari ini aku bertemu dengan sang penandai setelah sekian lama ia tak mengunjungiku untuk menceritakan dongeng-dongeng hebatnya. Aku penasaran dongeng apa yang akan dia ceritakan padaku, katanya beberapa hari yang lalu saat aku melewati pohon-pohon rindang dijalanan terjal terdengar angin berbisik diantara pohon-pohon ia menceritakan seseorang wanita yang tersohor di semesta ini. Apa mungkin wanita itu jua yang akan sang penandai ceritakan?

Benar ternyata, dia duduk di depanku sambil terkekeh tertawa menceritakan seorang wanita yang gagah, dermawan, arif dan bijaksana samun juga tegas. Perjuangan dan prestasinya hingga saat ini sangat mengagumkan, semua orang memujinya menatap dengan penuh kekaguman. ah orang politik selalu cerdas, kata sang penandai sambil merapihkan anak rambutnya. Aku masih antusias mendengar kisahnya sesekali juga melihat ke arah jendela melihat kepakan pohon menari-nari menikmati irama yang dibawa sang angin.
Dia hebat, semua memujanya orang-orang berdecak kagum melihat prestasi yang sudah dia dapatkan, kau tahu?
tentu itu semua bukan gratis ada harga yang harus dibayar nanti, dibalik kesuksesanya didepan sang semesta ada sekumpulan orang yang justru bekerja keras untuk tumpuannya, tapi aku menyaksikan mereka tidak bahagia, hal sebaliknya ada banyak hal ketidakmanusiaan yang dia lakukan pada mereka tentu saja orang-orang itu tidak akan pernah berani menentang dan berbicara, karena mereka hanya boneka mainan yang dia mainkan ketika dia kelelahan. Seseorang yang sudah mempunyai kekuasaan tentu kadang bersikap tidak waras, dia tidak tahu sesampainya dipuncak hari ini adalah berkat merangkak dari bawah dengan dukungan banyak orang. Sayang sekali ia tak menyadarinya.

Kau tahu?
diluar sana sangat gaduh sekali karena saking banyaknya orang-orang yang hidup di dua alam sepertinya, makanya aku lebih suka untuk tidak menetap lama di satu tempat. Kita harus sadar bahwa memang kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara mereka memerankan perannya masing-masing, ada yang menjadi tikus, ada yang menjadi buaya ada juga yang menjadi katak dan yang lainya hanya menjadi tumbuhan-tumbuhan kecil yang sewaktu-waktu bisa di injak bebas oleh mereka yang mempunyai kekuasaan, ah sungguh pertunjukan yang membosankan. 

Terkadang kekuasaan bisa menggelapkan manusia hingga lupa dari mana ia berasal, dengan semua kekuasaan yang ia punya ia bisa menggerakan apa saja, menghalalkan semua cara karena mereka tidak punya tuhan, tuhan mereka hanyalah kekuasaan. Kasian sekali yang mengadah dibawah, mereka adalah manusia yang tidak dimanusiakan.

Sambil berdehem sang penandai berjalan pamit mengapitkan kedua tangannya, lantas tersenyum. suatu saat akan aku ceritakan dongeng yang lain. keluarlah dari zona nyamanmu, kau tidak bisa berdiam diri hanya menyaksikan atau bahkan berperan sebagai rumput. kau harus keluar mencari penghidupan yang penuh dengan manusia yang berjiwa besar dan memanusiakan manusia.

Halim Perdana Kusuma Airport
Jakarta, 21 Maret 2018
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment