Friday, 2 February 2018

Perjalanan ia yang disebut sang 'Dewi'

Sudah hampir seminggu aku menunda untuk menulisnya, bukan karena banyak pertimbangan tentang dirinya tetapi pekerjaan menuntut meminta perhatian lebih dariku.
Aku ingin bercerita tentang perjalanan ia yang disebut sang 'Dewi' oleh 'Tuan putri' yang pernah bertemu dalam perjalanannya menuju pulang.
Sudah lama aku tak mendengar kabarnya, bahkan cerita tentangnya seakan ikut hilang bersama dengan kabut kemarin sore setelah perkawinan bunga dan kumbang di saat gerimis datang. Ia seperti hilang tanpa jejak, sengaja.

Seiring dengan perjalanan dan keputusan yang telah diambil mungkin pada akhirnya ia telah kembali ke titik awal dimana nama 'Dewi' tak ada untuk dirinya. Namun juga tidak mudah menjalani hidup seperti dirinya.
Aku hanya sanggup mendengar ceritanya dari sayup angin yang datang sebentar lantas kembali hilang, yang ia lalui hari ini adalah buah keputusan dari sang putri yang telah menegaskan dari awal sebelum tragedi  perkawinan kumbang dan bunga yang tak akan ia lupakan bahkan mungkin akan selalu ia kenang, meski sedikit memberatkan langkahnya, bukan karena tragedinya tapi janji yang tak sanggup ia tepati.

Bukan hanya 'Tuan putri' yang telah memintanya berhenti tetapi 'Malaikat tanpa sayap' itu juga memintanya untuk berhenti aku tau ini hanya untuk melindungi dirinya 'Dewi'.
Apapun yang terjadi dalam pengembaraanya, bahwa mungkin ia telah kehilangan sebagian hati yang lain meski yang lain telah menggenapkan. Aku tau ia 'Dewi' telah memilih jalannya.
Tak akan ada yang berubah meski mereka memintanya pergi bahkan untuk kembali tentu ia akan tetap berjuang mengutuhkan kaca yang telah terlanjur pecah tentunya dengan bantuan tangan sang Penguasa. 

Tetapi aku juga percaya ia 'Dewi' juga tak mungkin diam saat ini meski bergerak tanpa suara mengendap - endap bagai kancil yang sedang mencuri timun, tapi itulah caranya agar tak terdengar oleh juragan sang pemilik kebun dalam legenda sang penandai.
Jika aku tidak mengatakannya bukan berarti aku tidak merasakannya. Aku hanya tidak menemukan kata-kata yang lebih besar dari perasaanku.

Jakarta, 02/02/2018
Halim Perdana kusuma Airport