Thursday, 2 February 2017

Profesi membuat kita bertanya masih adakah kebaikan yang tulus?


Hari ini adalah hari yang luar biasa bukan karena hanya dapet undangan nonton galapremier salah satu film terbaik indonesia tetapi juga karena bisa bertemu dengan orang - orang luar biasa, berbagai karakter saya temukan disana senang sekali memperhatikan mereka. Tetapi perhatian saya terpecah ketika ada sang pemilik datang menghampiri kemudian kami mengobrol. Dalam pandangan mata manusia Beliau kaya dalam ukuran materi banyak uangnya itu sudah pasti karena beliau termasuk orang yang sukses didunia kepenulisan tapi saya kagum meskipun begitu beliau tetap terlihat bersahaja pakaiannya sederhana, ramah pada orang baru dan tetap tulus pada orang - orang lama yang ada disekelilingnya, itu terpancar jelas bukan dibuat - buat untuk pencitraan. Siapa yg tidak mengenalnya bahkan semua orang mengenalnya tapi beliau paham kekayaan yang sebenarnya justru bukan pada apa yang sudah beliau dapatkan selama ini tetapi ada pada hatinya. Itulah hakikat kekayaan yang sesungguhnya.

Dalam perbincangan kami selama kurang lebih 20 menit dimeja panitia tapi cukup membuat saya tertegun berpikir ulang. Percakapan kami dimulai dari siapa nama, orang mana dan sedang apa dijakarta (selain nonton galapremier hari ini) kami berbicara membahas banyak hal tapi seketika hening saat kami berbagi pengalaman tentang pekerjaan kami. Kuperkenalkan pekerjaanku saat ini, kemudian beliau diam sebentar mengambil jeda untuk mulai melanjutkan percakapan. Beliau bilang bila bekerja dikeuangan sebenarnya enak tidak terlalu ribet dan juga pasti orang - orang akan bersikap baik pada kita tetapi juga disana ada konsekuensi yang sangat besar ini adalah amanah dan yang lebih repotnya lagi saat kita bekerja dibagian ini kita sukar membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak tulus. Suatu saat kamu akan bisa membedakan mana orang yang benar - benar tulus dan mana yang hanya mengambil keuntungan darimu. 
 
Kamu jangan salah dikota ini mungkin 1 dari 1000 orang yang benar - benar tulus berteman denganmu yang sudah kamu temui. Kenapa? karena semua orang akan pamrih disini, di dalam mungkin terlihat manis tapi setelah kamu keluar kamu sendiri akan merasakanya bahwa perjuangan ini sebenarnya sunyi dan sukar. Bukan hanya itu semua terlihat saat kamu jatuh saat kamu berada dalam kesulitan itu akan semakin terlihat jelas bahkan bisa di itung jari siapa yang benar - benar denganmu. Itu hal biasa dalam perputaran kehidupan ini saya sudah mengalami banyak hal dan sekarang saya bagikan nasihat ini pada kalian sebagai anak muda. Untuk apa? Supaya kalian lebih peka dan jika memang semua yang saya katakan ini benar maka teruslah berbuat baik, bersikap ramah menjadi dirimu sendiri yang tidak memandang apapun jika memang itu benar karena hidup ini adalah timbal balik. 

Kita mungkin tidak terlihat kaya, sedikit ilmu tidak gaya atau tidak gaul, tidak cekatan atau kurang bekerja keras seperti mereka atau kita terlihat seperti pemalas tak apa itu adalah prasangka mereka terhadap kita, karena sejujurnya kita tidak memerlukan pandangan mereka seperti apa pada kita yang penting itu kita tidak mempunyai perangai demikian itu jauh lebih bijaksana. Ingat hidup itu timbal balik. Kemudian beliau pergi pamit meninggalkan meja untuk menyambut tamu - tamu yang lain yang baru datang.

Setelah mendengar saya tak berkomentar hanya mendengarkan nasihat dan pengalaman hidup beliau berfikir ulang ini pelajaran penting bukan hanya untuk saya tapi untuk kita semua. Kita memang tidak pernah tau mana yang tulus atau mana yang tidak tulus hanya sang "Maha" yang mengetahui segala. Apapun yang kita hadapi ini adalah sebagai konsekuensi hidup semoga kita menjadi mahluk yang paling manusiawi dalam bersikap, bertindak, berbicara dengan sesama.
Reaksi:

2 comments: