Wednesday, 22 February 2017

Berkaca dari perjalanan ke Negeri Gajah Putih

Berbicara perjalanan 3 bulan yang lalu ke negeri sebrang Negeri Gajah Putih 5 hari cukup membuat lelah segala - galanya (termasuk isi dompet) haha.. tapi saya tidak akan membahas isi dompetnya karena itu sudah menjadi sebuah resiko, saya hanya akan berbicara apa yang kita dapatkan dari perjalanan ini.

Dimulai dari sini take off dari Jakarta jam 6:55 sampai disana 10:45 lumayan seperti perjalanan naik kereta dari jakarta ke bandung, tak ada yang berbeda disana masih satu langit yang sama panas seperti jakarta, tatanan kota yang hampir mirip yang membedakan hanya disana lebih bersih dan sedikit maju dari negeri sendiri (ini tugas kita sebagai anak bangsa ya, untuk bersaing memajukan negeri sendiri !). Terlepas dari itu semua yang saya suka dari negeri gajah putih ini adalah mereka kental dengan tradisi menjaga dengan sebaik - baiknya. perjalanan kesana bertepatan dengan upacara peringatan kematian Raja Thailand, dari semua sudut kota berkumpul di satu titik ditengah - tengah kota , mereka berdo'a dan membagi - bagikan  bunga, makanan, snack, minum dan buah - buahan secara gratis disepanjang jalan kepada seluruh masyarakat yang hadir ataupun hanya sekedar lewat termasuk kepada kami pada saat itu yang notabene memakai jilbab tapi mereka tetap tersenyum dengan ramah (kami hanya mengambil minum dan buah - buahan saja yang pastinya sudah halal).

Di negeri ini muslim menjadi minoritas, dihari pertama lebih sulit mencari mesjid karena kami belum menguasai medan disana, hanya bermodal google map yang terkadang jalanya membawa kami terasa sangat rumit dan lelah tentu dalam kondisi seperti ini marah lebih mudah datang sampai dihari pertama kami memutuskan kembali ke hotel untuk mengerjakan shalat karena tak kunjung menemukan mesjid sampai waktu hampir habis. Selain mesjid yang sulit ditemukan di negeri ini, makanan menjadi urutan kedua yang sulit ditemukan. Mencari mesjid dan mencari makanan halal sama lelahnya kami harus berjalan berkilo kilo meter untuk mencapainya ujung - ujungnya kalau tidak junk food ya makanan india yang menjadi pilihan terakhir saat perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Tentu saja citarasa makanan nya pun menyesuaikan dengan lidah mereka tapi setidaknya masih bisa kami telan.

Berwisata ke banyak tempat mulai dari The Grand Palace,Wat Arun (Temple of Dawn), Wat Arun - Central Pier, Central Pier - Asiatique, Asiatique Night Market, Pattaya, Buddha Mountain, Silverlake, Madam Tussaud dan terakhir ke Chatuchack Weekend Market. dari semua tempat yang dikunjungi jangan berharap semua berbau religi karena muslim disini minoritas jadi lebih banyak kuil - kuil yang dikunjungi tapi tentunya selain pengalaman ada banyak pelajaran yang bisa penulis ambil. Bertemu mesjid dan bertemu sesama muslim disana sensasinya sangat berbeda jauh dan hanya akan bisa dirasakan oleh orang - orang yang sedang dalam perjalanan.

Hikmahnya adalah : dari semua perjalanan terkadang kita tidak sadar bahwa kita seharusnya lebih banyak bersyukur diberikan usia dan kesempatan untuk bisa memetik banyak pelajaran dari semua yang ditemukan. Di dalam hidup ini terkadang kita selalu berlaku egois mementingkan diri sendiri nyatanya dalam kehidupan kita selalu membutuhkan orang lain. Silaturahmi dan pertemanan yang harus selalu dijaga, belajar mengontrol emosi dalam setiap keadaan. Disini seyogya nya kita lebih bersyukur bisa merasakan nikmatnya beribadah dengan mudah, makan dengan mudah tanpa harus memilah - milah berjalan berkilo kilo meter jauhnya untuk mencari yang halal, menikmati udara segar tanpa bau aroma yang tak sedap (babi). Terkadang dengan kemudahan - kemudahan yang telah diberikan oleh sang maha kita cenderung sering melewatkan hal - hal kecil yang sebenarnya itu bermakna besar.

Reaksi:

2 comments: