Wednesday, 11 January 2017

Kosong

Aku menatap dalam layar itu, kertas kosong belum terisi, 
aku telah kehilangan insipirasi, imajinasiku kosong 
tak ada yang tersisa. aku tak tahu, apa yang harus kutuliskan 
entah apa yang terjadi terkaanku tak sampai  hingga mendesing sepi.
Aku hampir menyerah pada pendar yang telah tergambar, 
jemariku tak mampu menuliskanya hampir menyerah, namun layar itu seolah berkata :
"tuliskanlah, Aku tau engkau memendamnya begitu dalam". 

Kerinduan itu dalam mengusik, menelisik sampai pada 
titik yang tak mampu ku jangkau.
Engkau yang selalu ada dalam benak tak pernah beranjak.
Selalu mengusiku, tak lelahkah atau engkau menungguku 
untuk menyerah pada jarak?
Telah kubutakan mataku agar aku tak melihatmu dalam bayang, 
telah kutulikan telingaku agar aku tak mendengarmu dalam setiap jeda waktu
dan telah kubungkam mulutku agar aku berhenti berkata.

Nyatanya bagaimana bisa aku memendamnya begitu lama ia seperti jutaan sel kanker
terus menjalar merusak semua bagian hingga sang pemilik rubuh. 
haruskah engkau melihatnya dalam kondisi demikian? 
limbung kehilangan segala, aku menyerah.
biarkan waktu memeluk bisu dibatas senja
aku telah sampai padanya pada titik dimana ketabahanku seperti matahari
tatkala menumbuhkan bunga di nadi sunyi.
  

Jakarta, 11 Januari 2017.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment