Monday, 8 January 2018

Kamu Menyukai atau Mencintainya?

Hidup itu kadang unik, kadang kita begitu menyukai atau mencintai sesuatu baik itu hobby, pekerjaan ataupun barang. Tidak sedikit banyak orang yang mati-matian untuk memenuhi hobbynya, meluangkan banyak waktu untuk menatap pekerjaan di layar datar yang mereka sebut monitor atau bahkan tidak sedikit juga mereka yang mengkolektor barang-barang yang unik karena mereka suka. Lupa waktu akhirnya tenggelam hingga menjadi hal yang biasa. 

Kadang mereka tidak sadar bahwa mereka telah melupakan orang sekitar terutama keluarga, Ayah, ibu, adik, kakak, anak, istri, suami atau bahkan yang paling mengerikan bisa jadi ia melupakan Tuhanya sendiri. Mereka lupa bahwa sebenenrnya mereka punya itu semua. Terkadang pikiran kita juga jahat dengan uang semua akan beres tapi ia lupa bahwa cinta dan kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang.
Coba kamu pikirkan apa perbedaan suka dan cinta?
Coba kamu pikirkan lagi, kamu menyukainya atau mencintainya?
Karena, seseorang yang telah mencintai sesuatu ia akan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu Waktu.
Jadi jika dia tidak mempunyai waktu untukmu berarti dia tidak mencintaimu dia hanya sekedar menyukaimu tidak lebih. Karena jika dia cinta, dia akan selalu mempunyai waktu untukmu tanpa alasan apapun.  

Sederhana bukan? 
bahkan mungkin sebagian orang tidak menyadarinya, yuk kita mulai berbenah jangan sampai kita mencintai atau menyukai sesuatu yang bukan seharusnya kita cinta dan kita suka

.

Wednesday, 27 December 2017

Ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh Waktu

Jika berbicara tentang luka, luka pada fisik akan mudah disembuhkan meskipun pasti selalu akan ada bekasnya, tak apa karena sudah tak terasa lagi sakitnya namun saat melihat bekas luka tersebut pikiran kita akan otomatis bekerja merekam detik demi detik kejadian yang menyebabkan fisik kita terluka. 
Berbeda dengan luka hati ada pepatah mengatakan "Waktu akan selalu berbaik hati untuk mengobati hati yang telah luka" itu mungkin tidak berlaku bagi beberapa orang yang telah mendapatkan luka batin yang mendalam juga luka kekerasan secara psikologis yang telah dilakukan oleh orang lain terutama orang-orang terdekat dalam hal ini adalah keluarga. 
Luka dalam yang terjadi pada seseorang secara terus menerus akan menyebabkan trauma tersendiri dalam dirinya sehingga terprogram dalam pikiran dan hatinya, berbagai jenis penolakan hingga keinginan yang tidak mampu diwujudkan oleh pihak lain juga mempengaruhi luka itu sendiri yang pada akhirnya berimbas pada prilaku karena prilaku itu hadir dari pikiran dan hati hingga terrealisasikan menjadi gerak tubuh.

Itu sebabnya banyak orang-orang yang bermasalah dengan oranglain atau lingkunganya bukan karena mereka sepenuhnya bersalah tapi karena sebenarnya ia sendiri bermasalah dengan dirinya sendiri. Luka yang ada  akan sulit disembuhkan bahkan oleh waktu, perlu beberapa tahun mungkin berpuluh tahun untuk bisa memaafkan dan mengobati hatinya sendiri. Mereka sebenarnya memerlukan kita yang secara sadar telah menyadarinya bahwa ada yang keliru dalam dirinya untuk bisa membantu, namun sayangnya ia sendiri  tidak menyadari bahwa dirinya sedang membutuhkan oranglain.
yah begitulah memang melihat orang lain itu justru lebih mudah, dibandingkan melihat diri kita sendiri itu kenapa kita selalu memerlukan oranglain untuk bisa selalu membantu kita.

Setelah ini siapa yang akan disalahkan?
Pihak mana yang menjadi prioritas penyebab kenapa terjadi hal demikian?
Tidak, tidak lagi ada yang perlu disalahkan ini adalah pelajaran.Kita memang tidak bisa mengatur oranglain untuk berbuat apa terhadap kita, selain kita menjaga diri sendiri untuk tidak berbuat yang menyebabkan melukai oranglain baik secara fisik ataupun secara psikis antar keluarga, baik orangtua terhadap anak ataupun sebaliknya.

Dalam kehidupan ini kita selalu belajar ilmu ikhlas dan sabar untuk beberapa orang mungkin akan lebih mudah melaluinya tapi untuk beberpapa orang juga akan sulit menjalankannya. Kita tidak tahu ikhlas dan sabar itu seperti apa bentuknya, baunya bahkan bunyinya tapi kita selalu tahu dari mana semua itu berasal.  

“Jangan pernah mematahkan dan melukai hati seseorang karena mereka hanya punya satu. Patahkan saja tulangnya, mereka punya 206 dalam tubuhnya!” –Jay Von Monroe

Jakarta, 12 Desember 2017
Halim Perdana Kusuma, Renti Susanti.

Wednesday, 27 September 2017

Kita tidak hidup untuk oranglain, but for myself.

Kita tidak hidup untuk oranglain, but for myself.
Kata - kata itu memang terdengar klise bahkan terdengar sangat egois bagi sebagian orang yang tidak punya pandangan. Pandanganpun tentu akan berbeda-beda tergantung bagaimana ia belajar, bagaimana pola pengasuhan orangtuanya, bagaimana ia hidup dan bagaimana perjalanan hidupnya dalam proses pendewasaan. Tentu, pandangan seorang guru akan berbeda dengan pandangan seorang dokter, pegawai swasta, pengangguran atau bahkan mereka yang sakit dan sudah tidak punya harapan hidup lagi. 
terserah kalian bagaimana memaknai tulisan saya. saya tidak akan memaksa kalian untuk setuju atau mengikuti cara pandang saya, karena sejatinya kita memang berbeda sekaligus kaya dengan cara pandang yang berbeda.
Kembali ke topik yang akan saya tulis hari ini, "Kita tidak hidup untuk oranglain, tapi untuk diri kita sendiri".
Saya banyak belajar dari mereka, dengan latarbelakang kehidupan yang berbeda, selalu kagum atau bahkan sesekali tidak setuju dengan cara pandangnya. Tetapi, hidup ini bukan untuk setuju atau tidak setuju karena dengan berbeda pandanganpun kita masih tetap menjalani hidup dengan baik, saling bergandengan tangan, saling membantu dalam kebaikan dan tetap saling mengasihi satu sama lain.

Jiwa yang sakit karena luka masalalu cenderung akan lebih sulit menghadapi beberapa situasi terlebih jika masih berinteraksi. Mungkin butuh beberapa tahun untuk bisa pulih supaya ia bisa menerima, tapi itupun tidak bisa menjamin seseorang akan sembuh dari luka masalalunya. Seperti paku yang ditancapkan pada papan, kita mungkin bisa mencabut paku itu tapi tidak akan bisa menghilangkan bekasnya. Begitulah manusia akan selalu meninggalkan noda untuk manusia yang lainya. 
Mungkin ini tampak sepele bahkan dengan pandangan yang merendahkan kita akan berfikir setidak pemaafkah orang itu, bahkan tuhan saja maha pemaaf. Semua orang sah-sah saja berpikiran demikian tapi ingat kita tidak pernah merasakan hidup oranglain, kita tidak tau bagaimana orang itu untuk tetap kuat dengan luka masalalu yang dalam, kita juga tidak tau apa saja yang sudah ia hadapi dalam menjalani hidupnya diluar usahanya untuk menyembuhkan luka masalalunya.

Bagi seorang anak orantua adalah tombak utama, sekaligus busur panah bagaimana ia melesat , sampai pada tumpu kah atau bahkan melenceng dari busur tergantung dari kekuatan tarikan yang diberikan. Luka masalalu pada keluarga jauh akan lebih dalam dan membekas dibandingkan dengan yang lainya. Hari ini aku berbincang banyak dengan orang itu, banyak pelajaran yang bisa direnungkan, bahkan jika aku ditempatkan pada posisinya belum tentu bisa menghadapinya.  Begitulah manusia tidak ada yang sempurna dengan segala keterbatasan yang ada.

Dengan segala luka yang ada, dan upaya untuk membahagiakan oranglain dan diri sendiri, kita butuh upaya yang besar untuk bisa melihat senyum bahagia orang-orang tercinta. Segala keputusan, cita-cita dan jalan yang akan diambil tentu memerlukan beberapa pertimbangan orang-orang terkasih, seolah merekapun terlihat punya andil sibuk mengatur ini itu  tapi justru kita hidup tidak untuk mereka, kita berhak dengan semua keputusan yang akan kita ambil, kita berhak menentukan jalan mana yang akan kita tempuh dalam perjuangan ini. disinilah dilema besar dalam perjalanan hidup kita, sangat tidak salah jika kita berpikir bahwa  hidup bukan untuk oranglain, tapi untuk diri sendiri.

Jika direnungkan, kita tidak tau doa siapa yang telah membuat kita sehat, sukses, melewati hidup dengan mudah dan semua jalan keluar yang ada. Kita tidak tau itu do'a-do'a siapa, masihkah bersikap jumawa?
Tentu dengan segala keputusan yang ada, meskipun pada akhirnya kita berat untuk mengambil keputusan tersebut karena tekanan di luar diri kita lebih besar dan berisiko tinggi, maka mudah-mudahan keputusan yang berat yang sudah kita ambil atas dukungan dari luar semoga memberikan kebaikan yang lebih besar pula itu semua tidak lain hanya ingin membuat semua menjadi baik-baik saja, meskipun kita sendiri hancur. Janji Allah itu pasti,  siapa yang tidak percaya ini bagi orang yang beriman yang penuh dengan pengharapan tentunya ia akan selalu percaya pada janji-Nya.

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
Kita memang tidak hidup untuk oranglain, Tapi untuk diri kita sendiri karena sebaik-baiknya manusia adalah ia yang memberikan banyak manfaat bagi oranglain.
Jika kita tidak punya harta maka kita punya ilmu, jika kita tidak punya harta dan ilmu maka kita punya tenaga dan jika kita tidak memiliki semuanya maka kita memiliki diri kita sendiri untuk bisa membuat banyak orang tersenyum bahagia. Awalnya mungkin akan sulit tapi itu justru ladang untuk kita tetap rendah hati, Sungguh Allah Maha Melihat dengan segala pengorbanan yang kita pebuat untuk oranglain.

Wallahu A'lam Bishawab

Friday, 24 February 2017

Kepercayaan atas dasar cinta dan kesetiaan adalah seperti cermin

Memutuskan untuk tidak hidup sendiri adalah bukan perkara mudah, banyak yang akan kita korbankan tapi itu bukanlah permasalahanya karena jika kita cinta ia pasti akan berkorban. Cinta itu tidak ada yang sederhana karena ia selalu berdampingan dengan kesetiaan denganya cinta selalu tampak mewah. Cinta tanpa kesetiaan "TIDAK ADA".
Jika berbicara tentang pasangan, cinta dan kesetiaan tentu kita tidak bisa melewatkan pengkhianatan. Engkau tau, berapa banyak kekuatan yang dikumpulkan seseorang untuk bisa kembali utuh dari sebuah pengkhianatan yang telah dilakukan oleh pasangannya? bukan hidup yang mudah untuk dijalani saat kita mengetahui ia yang kita sebut sebagai cinta kita yang selalu di agungkan berkhianat dengan mudahnya. Kita mungkin bisa memaafkanya tapi tidak bisa memberikan kesempatan untuk orang yang telah berkhianat. Jikapun memberikan kesempatan yang sama, maka jangan harapkan akan utuh seperti saat pertama. 

Engkau pernah melihat cermin?
Indah bukan saat melihatnya, apalagi saat kita berdiri didepannya ia pun berdiri dengan tegaknya kita melihat seolah kita juga hidup di dalamnya, menirukan gerakanya, tertawa, menangis bahkan kadang tertawa sambil menangis sekaligus. Tapi saat ia memecahkanya maka tidak akan pernah utuh lagi bahkan mustahil engkau bisa berdiri di depanya seperti saat pertama.  Seperti itulah kepercayaan yang dibangun dengan penuh Cinta hidup, menjadikan kita juga hidup di dalamnya.  Kepercayaan atas dasar cinta dan kesetiaan adalah seperti cermin, karena kita selalu bisa bercermin pada yang lainya agar selalu diingatkan bahwa yang salah itu salah dan benar itu adalah benar, darah, keringat, sakit dan letih semua itu kita yang merasakan tidak ada yang bisa menggantikanya, kita berperan dengan peranan masing - masing tapi kita selalu punya cermin untuk bisa melihat diri kita sendiri.






Wednesday, 22 February 2017

Tidak ada pilihan yang tersisa dalam kehidupan kita, selain hanya diri kita sendirilah pilihanya.

Kadang hidup memang lebih sering berisi apa yang tidak kita inginkan, dan kita seakan - akan dipaksa masuk kedalamnya, merasa tak punya pilihan, hingga satu - satunya pilihan yang tersisa adalah diri kita sendiri. Tapi dari semua hal yang kita jalani pasti selalu ada hal yang lebih baik, sukar memang dan bukan perkara mudah tapi apapun itu semoga kita termasuk orang - orang yang pandai dalam berdamai dengan diri sendiri.

Faktanya ini bukan tentang apa dan siapa kita dihadapkan, semua itu seringkali tidak begitu berpengaruh justru yang menjadikan semua itu terasa sulit adalah diri kita sendiri. Kita cenderung terpaku dan sulit menerima baik keadaan ataupun orang yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi, apakah kita harus menolaknya? atau bahkan menerimanya? keputusan inilah yang sebenarnya akan memberikan perubahan besar dalam kehidupan kita. Lagi - lagi kembali pada diri kita sendiri, saat kita berdamai mungkin kita akan lebih mudah menjalaninya tapi saat kita sulit untuk berdamai maka semua hal yang kita jalani secara terpaksa akan semakin berat dan perlahan tapi pasti ia akan membunuh diri kita sendiri. 

Tidak perlu terburu - buru untuk memutuskanya karena faktanya kita perlu perenungan yang mendalam, petunjuk dari sang maha atas semua do'a - do'a yang kita rapalkan dalam setiap sujud - sujud panjang disepertiga malam, beristirahat sejenak untuk memulai dan berjuang dengan semua keputusan yang telah kita ambil. ini mungkin adil yang menyakitkan ; ia boleh diam tanpa memberi petunjuk, tapi ada juga hati yang bersiap pergi tanpa mengangkat telunjuk.

Tidak ada pilihan yang tersisa dalam kehidupan kita selain hanya diri kita sendirilah pilihanya, karena sejatinya orang yang beruntung ialah mereka yang mampu menerima diri sendiri. Mencintai tubuhnya dan merawat tabahnya. Apapun bentuknya kita hanya akan selalu belajar untuk berdamai sampai kita menjadi seseorang yang mahir semakin di asah maka semakin tajam semakin merunduk dan semakin bersyukur. Tak ada yang sia - sia selama kita berdamai dengan diri kita sendiri atas semua hal yang telah di hadapkan dan ditetapkan. Pilihanya hanya satu yaitu KITA BAHAGIA.